Terkadang kalau kita kembali melihat dari awal kehidupan ini, kita tidak pernah menyadari bahwa anugrah hidup adalah berkah dari Yang Maha Kuasa yang terindah. Tidak ada yang lebih indah dari kebebasan yang diberikan oleh Tuhan melalui hidup ini. Pilihan hidup tergantung dari kita sendiri, kita mau apa terserah dari kita. Hanya talenta yang Tuhan berikan kepada kita berbeda-beda, kembali tergantung dari pilihan hidup kita. Apakah kita bisa mengupayakan talenta yang Tuhan berikan ataukah kita biarkan saja bahkan kita rusak Talenta tersebut.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka kalau kita sadari "segala yang kita miliki" ini absolutely tidak akan kita bawa bahkan sampai mati. Kadang-kadang kita mengejar sesuatu yang semu dengan acuan standard dari orang lain, dengan alasan orang lain bisa kenapa kita tidak bisa. Hal ini berakibatkan banyak kegiatan kita yang secara hati nurani tidak sesuai dengan hati nurani kita demi penyamaan atas standard orang lain. Akibatnya muncul istilah "Homo Homini Lupus", manusia memakan manusia yang lain. Tidak ada rasa bersyukur atas apa yang Tuhan berikan kepada kita. Kita jarang melihat ke bawah bahwa masih banyak orang yang dibawah kita yang tidak seberuntung kita.
Kita harus berani melihat kembali " untuk apa kita hidup". Kalau orang Jawa bilang " hidup ini sekedar waktu untuk minum". Begitu cepat waktu berjalan, kita tidak sadar bahwa kita makin tua, makin berumur dan akhirnya siap menjelang ajal. Pertanyaan sekarang " apa yang sudah kita berikan dalam hidup ini?". Kadang kita tidak melihat bahwa disekitar kita banyak orang yang kekurangan, dan seharusnya kita bisa membantu, tapi kita tidak pernah berikan, karena kita mau menerima tapi tidak mau melepas. Menerima atas talenta yang diberikan Tuhan, dan tidak menyadari bahwa talenta yang diberikan tersebut harus juga "dilepas" dibagi kepada sesama yang secara talenta tidak seberuntung kita.
Sehingga sebelum ajal, sudah waktunya kita melihat " apa yang kita cari dari hidup ini" harta untuk anak cucu yang akan habis? kebijakan ? atau apa. Sehingga pilihan kita apakah kita kaya dari sisi harta dengan segala cara kita upayakan? atau kita sedang-sedang aja, tapi batin kita bahagia karena kita mau berbagi dengan orang lain? atau kita kekurangan secara harta, tapi bahagia secara batin karena kita banyak memberi daripada menerima. itulah pilihan hidup yang Tuhan berikan dan kita memang harus mensyukuri hal tersebut, merenungkan kembali apa yang bisa kita berikan terhadap sesama kita. Sehingga kita terlepas dari hal-hal negatif, korupsi, kolusi, pornografi, perselingkuhan dll.
July 16, 2008
Saat aku merenung
Rabu, 16 Juli 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
