Kamis, 27 Mei 2010

Pengalaman Membeli Properti dari Pengembang yang Tidak Diketahui Tak Recordnya (Kasus Cilangkap Residence)

Memang benar hal yang terpenting dalam membeli properti tidak hanya lokasi, lokasi dan lokasi, tetapi yang perlu dicermati adalah Siapa Pengembang dibalik properti atau developer dari perumahan tersebut.

Cilangkap Residence yang mulai dibangun pada awal 2008, terletak di Cipayung Jakarta Timur, dekat kelurahan dan Pelatnas PBSI. Sangat strategis menurut kami, karena daerah yang sedang tumbuh dan akses ke tol bisa dilakukan melalui JOR dan Jagorawi. Rencana kami ingin mencari Ruko sebagai bagian dari pembelajaran untuk melatih theory2 business yang didapat selama ini.

Karena baru dibuka, dan bagi kami sangat menarik sebagai salah satu dari pembeli awal terhadap properti tersebut, harga yang ditawarkan okelah bagi kami reasonable dan kalo dihitung2 bisa akan berkembang dengan pesat. Maka mulailah kita booking Ruko tersebut, walaupun kita tidak tahu dengan pasti siapa developer yang tercatat dalam hal ini PT HI, maka kami coba untuk memitigasi risiko bisnis dengan salah satunya menggunakan fasilitas KPR dari bank Bumn yang ternama yang memang terkenal di bisnis properti.

Booking fee udah kita bayar sekitar awal 2008, selanjutnya DP1, dan pararely proses KPR ke bank tersebut, setelah assesment, Bank setuju untuk mencover 80% dari nilai penjualan tersebut. Pihak developer kemudian meminta kami untuk melunasi 20% sebagai uang muka. dan kita deal dengan Bank untuk mencairkan sisa dana tersebut kalo propertinya siap untuk diserah terimakan. Pihak developer berjanji untuk dapat menyelesaikan pembangunan selama 1 tahun atau pertengahan 2009.

Kecurigaan mulai muncul, saat awal 2009, Satpol PP yang melakukan penertiban terhadap bangunan yang tidak memiliki IMB, merusak juga bangunan terutama Ruko yang terdapat di perumahan tersebut. Untuk mensikapi situasi tersebut kita datang ke developer menanyakan masalah tersebut, dan developer berjanji akan menuntaskan IMB Ruko, karena IMB yang sudah keluar hanya IMB untuk perumahan.

Kecurigaan kedua, muncul pada saat kita tanyakan ke Bank yang akan memberikan kreditur KPR hanya memberikan jaminan pinjaman 70%, sehingga kita dihubungi developer untuk menambah 10% DP lagi. Akhirnya setelah kita konfirmasi ke pimpinan Bank tersebut tentang kondisi dan kondite dari developer, pihak bank menyatakan aman, bisa ditambahkan uang muka 10% ke developer.

Tunggu punya tunggu, kita tanyakan ke developer sampai akhir tahun, kenapa bangunan tidak selesai2. Pada awal tahun 2010 pada saat kita cek tenant yang sudah menempati Ruko ternyata developer yang membangun properti tersebut lari dan bersengketa dengan pemilik tanah. sebagian dari tanah yang dikerjasamakan antara pemilik tanah dengan developer sudah diagunkan ke Bank, namun pihak developer tidak mampu melaksanakan kewajibannya untuk pelunasan ke bank dan pemborong bangunan, sehingga kita calon pembeli ruko yang sudah dibangun menuju finishing tidak tahu harus menyelesaikan masalah dengan siapa. kalo ditempati pasti disita bank, dan direcokin sama pemborong.

Akhirnya kita ketemu sama pemilik tanah untuk dapat mengembalikan uang muka yang sudah kita bayar. Pemilik tanah berjanji akan mengembalikan dalam waktu 3 bulan. 3 bulan kita cek, ada pembeli dari pemborongnya dan minta 1 bulan lagi pembayaran DP yg sudah kita bayar, berarti bulan depan.

Kita tunggu etikad baik dari pemiliknya, walaupun bagaimanapun ini pelajaran berharga : JANGAN MEMBELI PROPERTI YANG TIDAK JELAS TRACK RECORD DEVELOPERNYA.
pastikan developer punya kemampuan finansial yang cukup, dan jangan gegabah, property adalah long term invesment, take decision for a while to assure that everything is fine.

KITA TUNGGU 1 Bulan Ke depan

Kamis, 19 Februari 2009

Simpel dan Kontrol

kadang-kadang kita dihadapkan pada suatu kompleksitas yang sebenarnya kalo kita lihat secara lebih luas dibuat oleh karena perspepsi kita. Mindset kita sendiri yang membelenggu kita sehingga kita sendiri yang merupakan sumber masalah tersebut.

Mengetahui masalah secara benar sebenarnya telah menyelesaikan 50% dari masalah itu sendiri. Kadang-kadang kita tidak secara sadar menyelesaikan masalah malah membikin masalah baru karena sebenarnya kita tidak tahu masalahnya secara benar.

Perumusan masalah sendiri tidaklah mudah, kadang-kadang kita tidak berani melihat lebih keluar lagi atau thinking out of box dari mindset kita sendiri yang kita bentuk sendiri atau dibentuk oleh Lingkungan sekitar. Orang yang bijak akan senantiasa melihat lebih keluar dari masalah yang dihadapinya, sehingga dia dapat menyelesaikan masalah secara simple tidak komplek namun tetap dalam kontrol yang bersangkutan, karena dia telah melihat masalah dan risiko yang berkaitan dengan pengambilan keputusan yang dibuat.

Lebih baik menjadikan solusi menjadi simple (dengan melihat esensi masalah) dalam takaran control resiko yang bisa kita tolerir.

Batam, 19 Feb 2009

Menjadi Diri Sendiri (My Way)

Pada saat mengikuti training management pas di USA, teringat salah satu komen dari rekan menyatakan bahwa hal yang terpenting dari hidup ini adalah bisa menjadi diri sendiri. Ditengah terombang ambingnya perekonomian dunia, dunia politik yang mengarah pada politik praktis yang berdampak pada "politik bisnis", pergeseran sosial culture yang terjadi di Masyarakat, maka perlu adanya suatu sikap dari masing-masing Individu.

"My Way" adalah istilah yang mungkin bisa dikatakan tepat dalam menghadapi perubahan ini, dan memanage ekpetasi kita yang semakin tidak tak terbatas. Pada saat kita bisa berjalan dengan jalan kita sendiri atau My Way, maka kita memiliki sikap terhadap setiap perubahan atau keterombang-ambingnya ketidakpastian yang pasti akan terjadi.

Menjadi diri kita berarti kita telah secara sadar melihat dari sisi internal capability kita dan juga ekternal yang menjadi pressure terhadap ketidakmampuan kita sendiri. Dengan menjadi diri kita memakai jalan kita (my way) berarti pula kita telah memanage ekpektasi kita. sehingga kita bisa menjadikan hidup ini sebagai pilihan kita bukan pilihan orang lain, masyarakat sekitar ataupun dunia lain yang membelenggu kita....

Rabu, 16 Juli 2008

Apa yang kamu cari dari hidup ini

Terkadang kalau kita kembali melihat dari awal kehidupan ini, kita tidak pernah menyadari bahwa anugrah hidup adalah berkah dari Yang Maha Kuasa yang terindah. Tidak ada yang lebih indah dari kebebasan yang diberikan oleh Tuhan melalui hidup ini. Pilihan hidup tergantung dari kita sendiri, kita mau apa terserah dari kita. Hanya talenta yang Tuhan berikan kepada kita berbeda-beda, kembali tergantung dari pilihan hidup kita. Apakah kita bisa mengupayakan talenta yang Tuhan berikan ataukah kita biarkan saja bahkan kita rusak Talenta tersebut.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka kalau kita sadari "segala yang kita miliki" ini absolutely tidak akan kita bawa bahkan sampai mati. Kadang-kadang kita mengejar sesuatu yang semu dengan acuan standard dari orang lain, dengan alasan orang lain bisa kenapa kita tidak bisa. Hal ini berakibatkan banyak kegiatan kita yang secara hati nurani tidak sesuai dengan hati nurani kita demi penyamaan atas standard orang lain. Akibatnya muncul istilah "Homo Homini Lupus", manusia memakan manusia yang lain. Tidak ada rasa bersyukur atas apa yang Tuhan berikan kepada kita. Kita jarang melihat ke bawah bahwa masih banyak orang yang dibawah kita yang tidak seberuntung kita.

Kita harus berani melihat kembali " untuk apa kita hidup". Kalau orang Jawa bilang " hidup ini sekedar waktu untuk minum". Begitu cepat waktu berjalan, kita tidak sadar bahwa kita makin tua, makin berumur dan akhirnya siap menjelang ajal. Pertanyaan sekarang " apa yang sudah kita berikan dalam hidup ini?". Kadang kita tidak melihat bahwa disekitar kita banyak orang yang kekurangan, dan seharusnya kita bisa membantu, tapi kita tidak pernah berikan, karena kita mau menerima tapi tidak mau melepas. Menerima atas talenta yang diberikan Tuhan, dan tidak menyadari bahwa talenta yang diberikan tersebut harus juga "dilepas" dibagi kepada sesama yang secara talenta tidak seberuntung kita.

Sehingga sebelum ajal, sudah waktunya kita melihat " apa yang kita cari dari hidup ini" harta untuk anak cucu yang akan habis? kebijakan ? atau apa. Sehingga pilihan kita apakah kita kaya dari sisi harta dengan segala cara kita upayakan? atau kita sedang-sedang aja, tapi batin kita bahagia karena kita mau berbagi dengan orang lain? atau kita kekurangan secara harta, tapi bahagia secara batin karena kita banyak memberi daripada menerima. itulah pilihan hidup yang Tuhan berikan dan kita memang harus mensyukuri hal tersebut, merenungkan kembali apa yang bisa kita berikan terhadap sesama kita. Sehingga kita terlepas dari hal-hal negatif, korupsi, kolusi, pornografi, perselingkuhan dll.

July 16, 2008
Saat aku merenung